BALI.KOMINFO.CO.ID #
NGADA – Palang Merah
Indonesia (PMI) memperkuat layanan kepada masyarakat terdampak gempa bumi di
Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui promosi kesehatan. Selama
empat hari terakhir, 7–10 September 2026, tim PMI menjangkau sebanyak 298 warga
melalui edukasi kesehatan di sejumlah wilayah terdampak.
Dalam pelayanan promosi
kesehatan, PMI Provinsi Bali melalui PMI Kabupaten Tabanan mengirimkan dua
personelnya, yakni Ns. I Putu Edi Pratama, S.Kep dan I Gede Arya Adi Gunawan,
S.Kep. Mereka mengatakan layanan promosi kesehatan dilakukan secara bertahap di
sejumlah titik.
Pada Selasa (8/9/2026), kegiatan
promosi kesehatan berlanjut di Desa Tadho, Kecamatan Riung yang diperuntukkan bagi
87 warga. Edukasi difokuskan pada praktik enam langkah CTPS.
Selanjutnya, pada Rabu
(9/9/2026) promosi kesehatan dilaksanakan di Dusun Bekek, Desa Tadho. Sebanyak
30 warga mendapatkan edukasi mengenai GHPR, diare, PHBS, serta praktik enam
langkah CTPS menggunakan sabun.
Sementara itu, pada Kamis
(10/9/2026), tim memperluas jangkauan edukasi ke STKIP, SMP, dan SD Citra
Bakti, Desa Malanuza, Kecamatan Golewa. Sebanyak 95 warga mengikuti kegiatan
tersebut. Pada akhir setiap sesi, PMI turut membagikan media Komunikasi,
Informasi dan Edukasi (KIE) kepada warga yang bertujuan agar dapat dipelajari
dan dipraktikkan setiap hari.
Staf Markas PMI Kabupaten
Tabanan I Gede Arya Adi Gunawan, S.Kep mengatakan kegiatan tersebut merupakan
bagian dari penugasan untuk memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat di
wilayah terdampak.
“Yang kita kerjakan di
sini sesuai dengan penugasan pusat, yaitu promosi kesehatan tentang gigitan
hewan penular rabies, diare, ISPA, PHBS, dan cuci tangan. Kita juga melakukan
praktik cuci tangan,” ujar Arya, sapaan akrabnya.
Dalam pelaksanaannya, tim
promosi kesehatan juga berkolaborasi dengan tim kesehatan, logistik, serta unsur
lainnya. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan di lapangan
dapat ditangani bersama.
“Di sini kita saling
berkolaborasi dan saling mengisi. Ketika di tim kesehatan kurang tenaga, kita
membantu membackup. Begitu juga ketika tim logistik sedang mengangkat barang,
kita ikut membantu,” imbuhnya.
Pelaksanaan layanan di
wilayah Kabupaten Ngada juga menghadapi tantangan geografis. Jarak antara
markas dan sejumlah lokasi pelayanan yang cukup jauh membuat tim harus menempuh
perjalanan berjam-jam sebelum mencapai titik sasaran.
Meski menghadapi
keterbatasan jarak dan akses, tim kemanusiaan PMI terus berupaya untuk menjalankan
edukasi kesehatan secara berkelanjutan. Melalui layanan ini, diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan serta
mencegah berbagai risiko penyakit di tengah situasi pasca bencana. (pur/PMIBali)
