BALI.KOMINFO.CO.ID #
Bangli – Melalui dukungan program SIAP SIAGA, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali bersama PMI Kabupaten Bangli menyelenggarakan Pelatihan Agen Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SD Negeri 1 Trunyan dan SD Negeri 1 Buahan, Kabupaten Bangli pada 7-10 Juli 2026.
Kegiatan Pembukaan dilaksanakan pada 8 Juli 2026 dengan dihadiri langsung oleh perwakilan PMI Pusat, Australian Red Cross, BPBD Kabupaten Bangli, Perangkat Desa, Perangkat Sekolah, jajaran PMI Provinsi Bali dan PMI Kabupaten Bangli serta undangan dari jejaring dan lintas sektor terkait.
Diawali dengan seremoni, kegiatan dibuka oleh Ketua Bidang Organisasi PMI Kabupaten Bangli Bapak Negah Wikrama, S.Pd., M.Pd., Dalam sambutannya beliau mengatakan rasa terima kasihnya atas diadakannya pelatihan seperti ini.
“Tentu pelatihan seperti ini akan sangat bermanfaat, terutama bagi warga sekolah yang beraktivitas di wilayah yang memiliki potensi ancaman bencana yang cukup banyak,” katanya.
Berdasarkan laporan Ketua Panitia, Bapak I Kadek Ardip yang juga sebagai Kepala Markas PMI Kabupaten Bangli menyampaikan bahwa peserta pada kedua sekolah tersebut berjumlah 20 orang. Para peserta terdiri dari para guru, komite, siswa dan perangkat Desa. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman warga sekolah terkait Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Adapun fasilitator berasal dari unsur PMI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangli, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangli serta BMKG Wilayah III.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Provinsi Bali H. Agus Bambang Priyanto, S.H di sela kegiatan menyampaikan dalam sambutannya bahwa dengan adanya potensi bencana yang ada di wilayah Bali, PMI memiliki komitmen untuk meningkatkan, menyusun dan mengimplementasikan sekolah yang tangguh, aman dan siap dalam menghadapi bencana.
Maka dari itu, diharapkan dengan adanya pelatihan ini penanggulangan bencana secara formal dan non formal dapat berjalan lancar sehingga warga sekolah mendapatkan hak keamanan dan meminimalisir dampak risiko bencana. (RIS/PMIBali)
.jpeg)
