Badung - Senin, 9 Februari 2026 Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali secara resmi membuka kegiatan Lokalatih Masyarakat Indonesia Sadar Iklim dan Cuaca (MOSAIC) yang berlokasi di PrimeBiz Hotel Kuta, Bali. Kegiatan yang didukung oleh Program Siap Siaga ini bertujuan untuk memperkuat sinergi lintas instansi dalam pemanfaatan informasi cuaca guna pengurangan risiko bencana di wilayah Bali.
Adapun yang berpartisipasi dalam kegiatan ini yakni jajaran pengurus PMI se-Bali, staf bidang Penanggulangan Bencana, petugas posko, relawan PMI, serta perwakilan mitra dari BPBD. Tak hanya itu, PMI juga mengundang narasumber dan fasilitator dari stakeholder terkait, seperti BPBD Provinsi Bali dan BMKG.
Kepala Markas PMI Provinsi Bali Budi Suharjo mengatakan dalam laporannya bahwa PMI memegang peran strategis sebagai jembatan informasi dari BMKG dan BPBD untuk disampaikan ke masyarakat.
"Pelatihan MOSAIC ini adalah hal baru bagi kami dan menjadi momentum krusial untuk menindaklanjuti sinergitas antarlembaga. Melalui diskusi, simulasi, hingga praktik langsung, kami ingin memastikan pemangku kepentingan mampu memanfaatkan prakiraan cuaca untuk kesiapan bencana berbasis cuaca yang lebih akurat," ujar Budi Suharjo.
Ketua Tim Kerja Operasional Meteorologi BMKG Wilayah III Denpasar I Wayan Musteana sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kondisi iklim di Indonesia saat ini menuntut masyarakat untuk siap siaga sebelum, sesaat dan setelah bencana. Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara data dari BMKG dan aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh PMI.
Selain itu, ia juga menekankan perihal Bali yang memiliki karakteristik kerawanan hidrometeorologi yang sangat unik—mulai dari risiko tanah longsor di dataran tinggi bagian tengah hingga ancaman banjir di perkotaan di Badung dan Denpasar.
"Bali bukan sekadar pulau kecil. Bentang alam kita menantang. Saat ini kita berada di puncak musim hujan dengan potensi cuaca ekstrem. Masyarakat tidak boleh lagi hanya menjadi penerima informasi pasif, tetapi harus mampu mengevakuasi diri secara mandiri sebelum bencana terjadi," tegas Wayan.
Terakhir, I Gede Agus Arjawa Tangkas, SH., M.Si. Ketua Bidang Diklat dan Relawan PMI Provinsi Bali mengatakan dalam sambutannya bahwa pentingnya kerjasama antar stakeholder terkait, karena tidak ada bencana yang selesai jika ditangani sendiri. Maka dari itu, beliau menekankan untuk PMI terus bersinergi dengan stakeholder terkait guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Beliau juga berpendapat Markas PMI Kabupaten/Kota dan Provinsi harus menjadi simpul informasi yang aktif selama 24 jam penuh.
"Tidak ada instansi yang bisa menangani bencana sendirian. Kita bukan yang terhebat, tapi kita harus menjadi yang terlatih. Belajar bencana adalah belajar untuk selamat. Ini adalah everybody's business—urusan setiap orang," ungkap Agus Tangkas.
Tujuan dari kegiatan ini adalah agar para peserta memahami dan dapat menyampaikan informasi prakiraan cuaca yang bersumber dari BMKG ke masyarakat dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Hal tersebut juga agar dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan aksi dini.
