Jembrana - PMI Provinsi Bali bersama PMI Kabupaten Jembrana menyelenggarakan Diskusi Publik Lintas Generasi di MAN 1 Jembrana pada Sabtu (7/2). Kegiatan ini merupakan keberlanjutan dari program Ecorise: Denyut Sungai, Denyut Kehidupan yang didukung oleh WeSpeakUp.org dan Sahabat PMI Bali.
Diskusi ini merupakan salah satu upaya PMI dalam memperkuat kesadaran lingkungan dan mitigasi bencana berbasis alam. Kali ini PMI menggandeng lintas sektor terkait, yakni Agus Sugiyanto, S.Hut., M.H (Kepala UPTD Kehutanan Bali Barat) dan Ida Bagus Komang Anom (Klian Subak Abian Gelar Sari). Tujuannya adalah untuk menghadirkan perspektif mendalam mengenai kelestarian hutan dan warisan budaya subak.
Dalam diskusi tersebut, Kepala UPTD Kehutanan Bali Barat, Agus Sugiyanto mengatakan bahwa sebesar 70% hutan di wilayah tersebut masih merupakan blok hutan belantara dengan biodiversitas tinggi. Terdapat satu filosofi yang ditekankan oleh beliau, yakni "Tanah Tuwuh"— pola penanaman sekali untuk pemanfaatan seumur hidup—sebagai bentuk konservasi tingkat tinggi.
Tak cukup melestarikan saja, ia juga mengingatkan akan pentingnya upaya mitigasi khususnya bagi masyarakat Jembrana. Hal tersebut karena Jembrana saat ini memiliki 10 sungai yang menyatu di Muara Perancak, di mana tujuh di antaranya adalah sungai lintas kabupaten yang berpotensi terdampak perubahan kondisi alam. Maka dari itu ia membuka peluang bagi masyarakat untuk menginisiasi gagasan melalui hibah atau CSR, di mana pihak kehutanan siap mendukung gagasan tersebut untuk restorasi mangrove dan hutan.
Di lain sisi ia juga mengapresiasi langkah PMI terkait dengan giat penanaman bibit pohon menggunakan katapel. Ia menilai kegiatan ini dapat membuka rasa cinta dan sayang masyarakat kepada hutan.
“Bagaimana kita bisa memperkenalkan hutan kepada orang lain jika kita sendiri tidak pernah ke hutan? Saya mengapresiasi PMI sebagai bagian dari pencerahan ini untuk membuka rasa cinta dan sayang masyarakat kepada hutan,” ujarnya.
Sementara itu, Klian Subak Abian Gelar Sari, Ida Bagus Komang Anom membagikan kisahnya hidup berdampingan langsung dengan hutan. Ia menekankan bahwa air adalah anugerah alam yang harus dijaga melalui pelestarian hutan dan subak sebagai warisan luhur.
“Hutan memberikan ketenangan, kedamaian, dan kesehatan yang nyata. Kami sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin masuk ke hutan melalui fasilitasi PMI, selama tujuannya positif untuk pelestarian,” kata Ida Bagus Komang Anom.
Teruntuk generasi muda, ia berpesan agar selalu bijak dalam menggunakan media sosial. “Jangan sampai dijajah teknologi. Gunakan media sosial untuk mengenalkan hutan kita ke seluruh dunia agar tanggung jawab menjaga alam ini menjadi tanggung jawab kolektif global,” tegasnya.
Putu Yunia Andriyani, S.Ikom, staf PMI Provinsi Bali sekaligus Koordinator Projek Ecorise menyatakan apresiasinya terhadap antusiasme partisipan. Diskusi ini dinilai bisa menjadi ruang brainstorming yang efektif antara pembuat kebijakan, praktisi adat dan kaum muda.
“Ini adalah kesempatan baik bagi mereka yang mungkin belum sempat berkunjung ke Hutan Gelar secara langsung untuk mendapatkan inspirasi. Kami berharap melalui kegiatan ini, peserta termotivasi untuk menginisiasi gerakan ecorise serupa di tempat-tempat lain demi keselamatan lingkungan dan kemanusiaan,” ungkap Yunia.
Adanya kegiatan ini semakin menunjukkan komitmen PMI bahwa pelayanan kemanusiaan tidak hanya mengenai kebencanaan dan kesehatan, tetapi juga mencakup upaya proteksi lingkungan, inkusi gender dan keterlibatan aktif lintas generasi dalam menghadapi krisis iklim.

